Untuk jamu dan kain selendang, Mbah Suparni biasanya menjualnya berkeliling desa. Sedangkan tali tampar yang dibuatnya itu dijual kepada pengepul.
Katanya, membuat tali tampar itu cuma buat sambilan saja. "Yang utama itu jualan jamu dan selendang keliling desa setiap siang," ujar Suparni dalam bahasa Jawa saat ditemui Telisik.id bersama Akhir Lusono dari Lembaga Seni, Budaya dan Olahraga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Jumat (24/7/2020).
Karunia umur panjang yang dimiliki Mbah Suparni, juga dibarengi dengan kemampuan fisik yang masih yahud. Penglihatan dan pendengarannya baik. Bahkan, Mbah Suparni masih bisa berjualan.
Dia mengaku tidak punya surat-surat: KTP dan KK. Dulu, surat itu dibawa adiknya. "Saya masih ingat, saat itu zaman Belanda," terangnya.
Tapi benarkah usia Mbah Suparni telah mencapai 120 tahun? Dari perbincangan Telisik.id, tidak ada catatan otentik yang menunjukkan tahun pasti kelahiran Suparni.
