Administrasi kependudukan saat itu, belum memungkinkan mencatat kelahiran anak-anak pedesaan secara tertib dan terdokumentasi dengan baik.
Baca juga: Jelang Idul Adha, Polres Bombana Target Pengendara yang Meresahkan
Angka 120 tahun hanya berdasar pengakuan Mbah Suparni. Sulit dilacak. Apalagi, pastinya saat ini juga sulit mencari saksi hidup yang melihat secara lanjut kelahiran perempuan sepuh itu.
Kadri, Ketua RT 34 Tanjungharjo, mengaku tidak pernah memiliki bukti surat kelahiran Mbah Suparni yang pernah hidup di zaman penjajahan Belanda, Jepang dan di era kemerdekaan ini.
Mbah Suparni memiliki kemampuan berkomunikasi dengan tiga bahasa: Belanda, Jepang dan Indonesia. Saat ini pun masih fasih menggunakan bahasa tersebut. Bahkan, Mbah Suparni juga fasih menyanyikan beberapa lagu yang dipelajarinya saat zaman Belanda dan Jepang.
