Di kejauhan, di tengah selat yang beriak, nampak tiga bodi bergerak lambat-lambat menuju dermaga, tempat dimana ibu-ibu yang sedang menunggu tadi mengobrol. Ibu-ibu itu menunggu sejak jam empat subuh. Nyaris sudah tiga jam lebih mereka di sana, hingga tak terasa matahari sudah nongol dari ufuk timur.

Tatkala bodi-bodi hampir merapat, menghamburlah ibu-ibu itu ke sisi dermaga dengan rasa ketidaksabaran seperti anjing-anjing kelaparan yang menanti sepotong tulang. Ketika bagian haluan bodi benar-benar mencium sisi dermaga, dan tangga-tangga kecil telah melekat pada sisinya, bergerak masuk berdesak-desaklah ibu-ibu tadi ke dalam kapal.

Ibu muda berjilbab, memegang ember putih dengan tingkah yang masih sedikit canggung mendekati seorang pelingkar dari Selatan yang merupakan langganan tetapnya selama sebulan belakangan ini. Si pelingkar berkumis, melempar senyum dan kerlingan mata yang sedikit nakal ke arah wanita muda berjilbab itu dan tanpa bicara apa-apa, lalu membuka terpal plastik di belakangnya. Tampaklah dua bakul ikan kembung yang masih segar di sana.

Diberikanlah ikan itu pada si wanita muda itu, terjadi percakapan sebentar di antara mereka, lalu sebakul ikan dipindahkan ke dalam ember putih yang dipegangnya tadi, lalu dijunjung di atas kepalanya yang telah dilapisi kongko. Dan sebakul lagi dioperlah pada tukang ojek, yang akan mengantar ibu muda itu ke pasar nanti, setelah ikan yang dijunjungnya dijual keliling kampung laku terjual.

Sementara ibu-ibu yang lain tampak masih memilih-milih ikan yang masih segar dan yang sudah melek dengan gerakan terburu-buru seolah-olah sedang diburu anjing, sebagian lagi ada yang sudah menjunjung ember-ember ikan di atas kepalanya dan berlalu cepat bersama tukang ojek langganannya, dan tinggal beberapa saja yang masih bernegosiasi harga dengan pelingkar yang tak kunjung usai.