Baca juga: Mengenal Siti Afiah, Nenek 69 Tahun Raih Gelar Doktor Predikat Cumlaude
Narasi di atas adalah sepenggal kisah kehidupan para perempuan jibu-jibu di pesisir pantai Pulau Tomia. Mereka juga adalah ibu (entah mengapa pekerjaan ini memang hanya dilakoni oleh ibu-ibu dan sebagian kecil oleh laki-laki yang tentunya sudah berkeluarga).
Mereka adalah perempuan-perempuan perkasa yang bekerja semenjak subuh mulai runtuh hingga panas matahari memanggang, untuk keluarga kecil mereka di rumah yang perut-perut kecilnya selalu minta diisi. Jibu-jibu, pekerjaan ini terdengar kasar, dengan penghasilan yang tak menentu, seperti musim angin. Namun, mereka tetap gigih, bangun pagi-pagi sekali menuju dermaga yang jarak tempuhnya lumayan jauh untuk sebuah harapan.
Lalu, tidakkah Anda penasaran apa itu jibu-jibu? Deskripsi singkat di atas barangkali telah membawa pikiran Anda pada sebuah pemahaman sederhana bukan? Bahwa jibu-jibu identik dengan penjual ikan.
Ya, pemahaman Anda tidaklah salah. Namun, di Tomia, Kabupaten Wakatobi, ada sedikit perbedaan pemberian istilah untuk penjual ikan, dan ayo kita sama-sama telusuri asal muasalnya.
