Apalagi jika seorang jibu-jibu dilihatnya masih muda, kadang digombali juga. Dalam keadaan seperti ini, iman seorang perempuan jibu-jibu, yang juga berperan sebagai istri, dipertaruhkan antara kesetiaan pada suaminya dan pekerjaannya.
Dari tangan pelingkar yang baik hati mereka bisa mendapatkan ikan dengan harga yang cukup murah. Walau tanpa uang sekalipun, cukup dengan modal kepercayaan dari pelingkar mereka bisa mendapatkan ikan, menjualnya ke pasar atau keliling kampung, setelah itu barulah harga ikan dibayar ke pelingkar.
Jika musim angin, inilah masa yang tersulit bagi seorang jibu-jibu. Musim angin adalah saat-saat kencang ombak di laut sehingga pelingkar sulit mendapatkan ikan. Lalu harga ikan tiba-tiba melonjak naik di pasar. Saat-saat tersulit seperti ini pelingkar biasanya tak mau menjual ikan tangkapannya pada jibu-jibu. Mereka lebih memilih menjualnya langsung pada konsumen. Jibu-jibu pun tak mati akal. Mereka berusaha membujuk pelingkar langganannya agar bisa memberinya ikan walau cuma sedikit.
Ingat, jibu-jibu telah mengorbankan banyak waktu, dan uang transportasi untuk sampai ke dermaga, jadi mereka pantang pulang dengan tangan kosong. Namun, sekeras hati apapun mereka untuk mendapatkan ikan, kalau pelingkar tak mempunyai stok ikan yang cukup untuk para pelanggannya, apa mau dikata, jibu-jibu terpaksa pulang dengan kekecewaan.
Kekecewaan hari itu tak membuat mereka patah semangat. Besok subuh mereka dengan sabar menanti lagi di pantai dengan penuh harap. Meskipun mereka sadar bahwa angin masih kencang. Masih selalu ada keyakinan di hati kecil, bahwa mereka bisa mendapatkan ikan hari itu, walau dengan harga mahal setinggi langit. Jika kebetulan seorang saja yang mendapatkan ikan, maka mereka akan saling berbagi dengan kawan-kawan dekatnya sesama jibu-jibu.
