Baca juga: Kopi Kahianga, Surga Wakatobi yang Kerap Luput Perhatian

Saat musim angin kencang, tentu ombak-ombak di laut cukup besar, menjaring ikan menjadi begitu sulit, sehingga para pelingkar sedikit saja yang melaut. Kalau sedikit saja pelingkar yang melaut, berarti sedikit pula ikan yang didapat. Karena sebab-sebab itu beberapa jibu-jibu memilih istirahat menjual. Namun, justru di musim kencang angin inilah, jibu-jibu yang masih bertahan menanti pelingkar di tepi pantai justru mendapatkan banyak untung sebab ikan yang tiba-tiba naik harga!

Di musim ikan melimpah, para jibu-jibu bisa mendapatkan seember  ikan dengan harga Rp 30.000—Rp 50.000. Dari modal Rp 30.000 mereka bisa mendapatkan untung bersih Rp 100.000—Rp 150.000. Namun jika musim kencang angin, seember saja bisa dikenai harga Rp 100.000 s/d Rp 250.000 oleh pelingkar.

Di musim ikan melimpah juga, biasanya para pelingkar akan menjual ikan-ikan hasil tangkapannya pada kapal penampung dulu, barulah terakhir dijual kepada para jibu-jibu. Ikan-ikan hasil tangkapan pelingkar hanya ada dua macam saja, yaitu momar dan komu.

Di musim kencang angin, tentu hasil tangkapan sedikit sehingga tak cukup dioper pada kapal penampung. Saat itu pelingkar cuma punya dua pilihan; menjual sendiri ikannya pada konsumen, atau pada para jibu-jibu dengan harga tinggi.