Oleh: Efriza

Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan

POLITISI partai tentu saja meradang melihat fenomena figur profesional yang tentunya non-partai mulai mendapatkan apresiasi dan respons positif berupa elektabilitas yang dianggap pantas sebagai calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) pada Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) Serentak 2024 mendatang.

Kritik disampaikan Masinton memang ditujukan kepada salah satu menteri di kabinet sekarang ini. Kritik yang disampikan Masinton menunjukkan kecemasan politisi partai, sebab bandul politik bergerak condong kepada calon profesional yang bukan orang partai. Menguatnya penerimaan masyarakat terhadap figur profesional yang tanpa partai bukan tanpa sebab, hal ini yang menarik untuk dibahas.

Akar permasalahan Indonesia sejak reformasi menguatnya partycracy, yang dari sisi konsep politik tidaklah salah tetapi dari sisi prakteknya yang cenderung merusak. Kedaulatan yang ditekankan kepada rakyat, lambat-laun kedaulatan telah pindah berada di tangan partai politik. Semua kanal politik dikuasai partai politik.