Tetapi, Prabowo melupakan potensi kebosanan dan “jengah”-nya pemilih, bisa saja elektabilitas Prabowo tinggi terdongkrak popularitasnya, tetapi kejengahan pemilih dengan figur 4L (Loe Lagi, Loe Lagi) dan/atau 6L (Lagi-lagi Loe, Loe Lagi-lagi), dapat menghantarkan kembali realitas kegagalan sekian kalinya.

Sosok Prabowo tak bisa diabaikan memberikan dampak elektoral dan efek “ekor jas” yang tinggi bagi Partai Gerindra. Personalisasi partai yang menghasilkan sosok Prabowo sebagai identitas dan/atau image dari partai itu, telah membuat Gerindra mengalami peningkatan perolehan suara dan peringkat, sejak awal berdiri hingga saat ini.  

Awal mengikuti Pemilu Legislatif pada tahun 2009, Gerindra dalam posisi kedua dari belakang. Kemudian, melesat tiga besar pada Pemilu Legislatif 2014, selanjutnya Partai Gerindra menempati posisi kedua sebagai peraih suara terbanyak.

Jangan lupakan pula, Partai Gerindra melalui Prabowo telah menempatkan partai baru ini dalam tiga kali Pilpres terlibat sebagai pasangan calon yakni sebagai cawapres meningkat menjadi capres. Bahkan, pada Pemilu Serentak 2019 kemarin, penantang Jokowi sebagai petahana, yang dianggap layak hanya Prabowo Subianto, sehingga terjadilah Pilpres serasa “ring tinju” adanya rematch.

Wajar akhirnya, bentangan sejarah dan penalaran sederhana, Partai Gerindra mengusung kembali Prabowo sebagai capres. Berdasarkan perhitungan elektabilitas, dampak elektoral dan/atau efek “ekor jas,” inilah yang diharapkan diraih dengan lebih besar dan/atau minimal tetap sebagai partai peraih suara kedua.