Kharisma ini juga yang mendorong partai mengawetkan model kultur patronase dalam tubuh partai, maka terjadinya hubungan patron-klien (Aisyah Putri Budiatri, 2018).
Akibatnya, dianggap lumrah segala keputusan partai diupayakan hanya untuk kepentingan sosok patron semata, yang sebenarnya nyeleneh, partai sebagai institusi tempat lahirnya sosok pemimpin di negara ini, hadir hanya untuk kepentingan seorang. (*)
