Ini menunjukkan ada kekecewaan dari ketiga partai politik itu dalam mengusung Anies. Terlintas upaya untuk mengulang sejarah Jokowi dari Pilkada diusung di Pilpres lalu terpilih, ternyata Anies malah mengecewakan.

Fakta lainnya perlu disampaikan juga, bahwa Anies bukan dari kader partai tertentu. Anies adalah politisi non-partai, sehingga kans mengajukan Anies sebagai calon gubernur DKI Jakarta sama saja akan menutup kans mengusung calon kader-kadernya sendiri dari ketiga partai itu.

Ketimbang menutup kans mengusung kader, berharap keberuntungan Anies terpilih kedua kalinya di Pilkada, lebih baik mulai mempersiapkan dan mempertimbangkan mengusung kader-kader partai masing-masing.

Baca Juga: Jokowi sebagai Ketua Umum Partai Golkar?

Pilihan tidak mengusung Anies juga dipertimbangkan karena pasca kalah dari Pilpres, harus diakui bahwa Anies memungkinkan jika meminjam bahasa di sepak bola sebagai politisi yang bisa disebut one season wonder, yang hanya bersinar satu musim (pemilu serentak, pen), kemudian meredup pada musim selanjutnya sampai namanya tidak pernah terdengar lagi.