Tidak jarang ditemukan hal memilukan pada anak, seperti keadaan sakit cacat, luka parah, bahkan sampai meninggal (tidak mampu bertahan hidup), namun bukan disebabkan oleh kurangnya perhatian di bidang kesehatan. Juga tidak disebabkan karena tidak terpenuhinya hak imunisasi atau asupan gizinya. Kejadian ini justru disebabkan oleh perlakuan kekerasan oleh orang dewasa.
Perlakukan kekerasan orang dewasa kepada anak sering luput dari perhatian masyarakat karena beberapa faktor yang masih menjadi mitos, antara lain: Pertama, bahwa keluarga adalah sebuah lingkungan yang selalu harmonis dan penuh kasih sayang.
Kedua, bahwa orang tua atau orang yang dituakan akan selalu melindungi anak-anak karena kasih sayang dan cinta mereka. Ketiga, adanya kesalahan persepsi bahwa yang mengakibatkan keadaan sakit dan disfungsional pada manusia hanyalah penyakit dan kekurangan gizi.
Ketiga alasan di atas cukup menjadi halangan bagi warga masyarakat ketika melihat ada anak yang mengalami kekerasan di dalam keluarganya. Mereka juga enggan melapor kepada pihak berwajib karena masih percaya bahwa orang tua, kakek, paman, guru, pembimbing, dan pelatih, tidak mungkin mencelakai anak-anak yang dalam pengawasannya sendiri.
Hal di atas pun terjadi pada profesi atau tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, dan lainnya. Misalnya, bila profesi atau tenaga kesehatan mendapatkan pasien yang luka, memar, patah tulang atau yang trauma lainnya, seringkali mereka luput menelusuri lebih jauh, apakah trauma yang dialami anak tersebut akibat tindak kekerasan atau bukan?
