Kendala dari aspek biologis atau fisiologis lainnya adalah efek putus nikotin (withdrawal effect). Perokok dapat mengalami gejala efek putus nikotin, mulai dari sakit kepala, mual, konstipasi, batuk, sulit konsentrasi, susah tidur, sering merasa lapar, mudah marah, dan bahkan merasa stres.
Gejala efek putus nikotin umumnya timbul 4-6 jam setelah lepas nokotin pada seseorang perokok reguler. Gejala biasanya mencapai puncak pada beberapa hari pertama dan bisa berlangsung sampai 2-4 minggu selama berhenti merokok. Pada kondisi ini perokok sering berusaha mempertahankan kadar nikotin serum minimal untuk mencegah efek putus nikotin yang terjadi dan mempertahankan efek nyaman dari nikotin dengan kembali merokok.
Baca Juga: Isu Hak dan Pilihan Bebas di Balik Sebatang Rokok
Berikutnya, karbon monoksida pada rokok. Karbon monoksida yang terisap bersama asap ini akan mengikat hemoglobin dara sehingga kemampuannya mengikat oksigen menjadi berkurang. Akibatnya, fungsi otot dan jantung akan menurun. Hal ini akan menyebabkan terjadinya kelelahan, lemas, dan pusing. Dalam skala besar, orang yang menghirup gas ini bisa mengalami koma atau bahkan meninggal.
Jika hal ini berlangsung sejak usia anak-anak maka kemapuan otaknya pun akan berkurang. Dalam buku “Halal Haram Rokok Hingga Hukum Kebiri,” dr. Kartono Mohamad mengutip hasil penelitian Paula Rantakallio terhadap remaja perokok di Finlandia, yang melaporkan bahwa remaja yang sudah merokok sejak usia 14 tahun mempunyai prestasi sekolah dan olahraga yang rendah.
