Saat ini, berdasarkan Hasil Survei Nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5-19 Juli 2026 mencatat bahwa elektabilitas PSI semakin menguat dan menembus angka 4,1%, mendekati ambang batas parlemen, bahkan hanya terpaut 0,3 poin dari PKS dan NasDem yang masing-masing berada di angka 4,4 persen.

Di sisi lain, langkah tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya mengukur apakah pengaruh personal Jokowi masih cukup kuat untuk menembus wilayah yang selama ini menjadi basis utama PDIP. Jika berhasil, dinasti politik Jokowi akan memperoleh legitimasi bahwa pengaruh politik Jokowi tidak bergantung pada jabatan presiden. Sebaliknya, apabila gagal, publik berpotensi menafsirkan bahwa daya magnet politik Jokowi mulai mengalami penurunan drastis ketika tidak lagi berada dalam posisi kekuasaan.

Pilihan Kaesang maju di dapil yang menjadi basis Puan Maharani juga memiliki makna simbolik. Hubungan Jokowi dengan PDIP yang memburuk sejak Pemilu 2024 membuat setiap langkah politik keluarga Jokowi hampir selalu dibaca sebagai bagian dari rivalitas dengan PDIP yang pernah mengusungnya maupun keluarga besarnya seperti Gibran di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebagai wali kota Solo maupun Bobby Nasution sebagai wali kota Medan kala itu.

Keluarga Jokowi sedang berupaya melalui PSI menantang dominasi politik PDIP di Jawa Tengah yang selama ini dianggap mapan. Pesan yang ingin dibangun ialah tidak ada lagi wilayah yang sepenuhnya menjadi “kandang” satu partai politik, sehingga ini adalah upaya Gajah (PSI) “mengusik” kandang Banteng Moncong Putih.

Bagi Keluarga Jokowi dan PSI, apabila mampu memperoleh suara besar di basis PDIP, tentunya akan menjadi simbol bahwa dominasi elektoral partai berlambang banteng mulai dapat ditantang. Sebaliknya, apabila gagal, justru akan memperkuat anggapan bahwa kekuatan organisasi, basis ideologis, dan mesin politik PDIP masih sangat sulit digoyahkan, bahkan oleh figur Jokowi yang memiliki kedekatan historis dengan partai tersebut.