Meskipun PSI saat ini dalam trend positif di berbagai survei elektabilitas partai-partai politik, tetapi kenyataannya daya tarik elektoral Kaesang maupun simpatik publik kepada PSI masih sangat dipengaruhi oleh efek popularitas Jokowi atau coattail effect. Bahkan, akan ditempatkannya Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina PSI, semakin memperlihatkan bahwa partai tersebut masih sangat bergantung pada figur Jokowi sebagai sumber utama mendongkrak popularitas PSI merebut simpatik publik maupun legitimasi politik partai tersebut.

Bahasa Sarkasnya, figur Kaesang belum bernilai tinggi meski telah menjabat sebagai Ketua Umum PSI, ia diperhitungkan hanya karena adanya Jokowi dan fakta ia adalah anak bungsunya semata.

Peluang PSI mengurangi pengaruh PDIP dengan mengandalkan Jokowi memang tetap terbuka, tetapi efek tersebut kemungkinan lebih bersifat menggeser sebagian pemilih berbasis figur daripada mengubah peta kekuatan politik secara fundamental maupun dalam waktu instan.

PDIP masih memiliki sejumlah modal politik yang sulit ditandingi dalam waktu singkat, yakni struktur organisasi yang mengakar hingga tingkat desa, kaderisasi yang relatif mapan, serta basis pemilih ideologis yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Modal kekuatan kelembagaan dari PDIP ditengarai tidak dapat digeser dengan drastis, hanya dengan mengandalkan popularitas tokoh Jokowi yang punya nilai historis bersama PDIP.

Baca Juga: Celah Korupsi dalam Program Prioritas Pemerintah