Jokowi mungkin masih mampu membantu PSI menarik sebagian pemilih, terutama mereka yang lebih loyal kepada figur dibandingkan kepada partai utamanya juga ditubuh Banteng Moncong Putih. Misal, Survei SMRC menunjukkan selain elektabilitas PSI melejit mencapai 4,1 persen. Survei ini juga mencatat adanya irisan atau perpindahan dukungan dari pemilih PDIP, di mana sekitar 28 persen pemilih PDIP menunjukkan potensi dukungan silang untuk dinasti politik Jokowi.
Tetapi, pengaruh personal Jokowi tersebut juga dapat berpotensi mengalami penurunan seiring berjalannya waktu setelah ia tidak lagi menjabat sebagai presiden. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan PSI pada 2029 mendatang, tidak semata-mata ditentukan oleh kemenangan Kaesang di satu dapil atau trendingnya pemberitaan Jokowi melakukan safari politik nasional.
Tolok ukurnya adalah apakah PSI mampu membangun organisasi yang mandiri, memperluas jaringan kader, serta menciptakan basis pemilih yang tidak bergantung sepenuhnya pada pengaruh personal Jokowi.
Pada akhirnya, Pemilu 2029 akan menjadi arena pembuktian dua model politik yang berbeda. Di satu sisi, terdapat strategi yang bertumpu pada kekuatan figur dan warisan popularitas keluarga Jokowi.
Di sisi lain, terdapat kekuatan partai yang telah membangun institusinya dengan benar dan mapan melalui mengandalkan organisasi, kaderisasi, dan loyalitas ideologis yang telah menjadi karakter utama PDIP. Hasil pertarungan tersebut akan menentukan apakah pengaruh politik keluarga Jokowi mampu bertahan sebagai kekuatan jangka panjang atau justru menjadi fenomena yang menunjukkan semakin memudar setelah berakhirnya kekuasaan Jokowi. (*)
