Sejalan dengan anjuran banyak dokter bahwa pasien sakit berat, termasuk penderita stroke berat, sebaiknya intens didampingi suami, istri, anak atau saudara kandungnya, seorang dermawan terpanggil membiayai pemulangan Hila ke NTT.
Dermawan itu, pensiunan pemimpin redaksi (Pemred) sebuah koran harian nasional terkemuka di Jakarta. “Pak Rikard Bagun menanggung biaya pemulangannya,” ungkap Hila Bame, Pemred inakoran.com.
Pieter Sambut, yang di NTT bertetangga kampung dengan Hila, berkenan bersama putra bungsunya (Venanto) mengantarkannya. Dibekali surat pengantar dari dr. Norma di rumah sakit tempat semula Hila dirawat di Jaktim, mereka pun memulai perjalanan panjang membawa Hila.
Tak terbayangkan, tetap dengan selang kateter terpasang urine bag menggelantung, mereka menumpang kereta dari Gambir ke Surabaya, Kamis (14/9/23). Dokter memang tak merekomendasi Hila dibawa dengan pesawat terbang.
Tiba di Ibu Kota Jatim itu esok paginya (15/9/23). Mereka bermalam di sebuah hotel dekat Pelabuhan Tanjung Perak. Ini untuk mempermudah menjangkau pelabuhan. Jadwal keberangkatan kapal fery tujuan Wae Kelambu, Labuanbajo, baru Sabtu jelang Tengah hari (16/9/23).
