Rupanya informasi tentang kondisi dan perjalanan Hila, telah lebih dahulu menyebar. Termasuk dibaca oleh rekan-rekan jurnalis di Mangbar. Di rumah Pak Salamin, tak lama kemudian datang Kepala Dinas Kesehatan Mangbar, dr. P. Mami beserta perawat. Menyusul kemudian, tiba pula rekan-rekan jurnalis setempat. “Ini berkat hubungan baik adik-adik jurnalis dengan Dinas Kesehatan di sini,” kata Pieter.
Di sini Hila mendapat pelayanan rumah (home service) cuma-cuma dari rumah sakit yang kebetulan letaknya tak jauh dari rumah Pak Salamin. Dua hari bertutur-turut perawat datang memeriksa Kesehatan Hila. Setelah pelayaran jauh selama 32 jam, Hila diminta istirahat dulu dua hari di situ.
Sebetulnya, dari Borong, ibu kota Mangbar, kampung halaman Hila tidak jauh. Tetapi, untuk menjangkaunya butuh waktu 3-5 jam. Kampung halamannya, Mesi, di pelosok Desa Rana Kolong, Kecamatan Kota Komba.
Baca Juga: Memetik Budaya Kemanusiaan di Rumah Sakit
Selain mendaki ke ketinggian sekitar 1.800 di atas permukaan laut (dpl), menuju ke Mesi juga harus menempuh jalan rusak berat. Di atas mobil bak terbuka yang melaju terseok-seok sangat lambat, penumpang terbanting ke kanan ke kiri. Hila, tentu saja, ditempatkan di kabin.
