Perlu dicatat, proses Istanbul sebelumnya telah memasuki putaran ketiga pada 23 Juli 2025. Hasilnya, kedua pihak menyepakati pertukaran tawanan, namun pembicaraan terkait gencatan senjata dan kesepakatan damai yang lebih luas belum membuahkan hasil signifikan.
Dalam konteks ini, pertemuan Ankara tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga berupaya menghidupkan kembali momentum yang sempat terhenti, sekaligus menegaskan posisi Turkiye di mata internasional sebagai fasilitator dialog.
Erdogan menambahkan bahwa Turkiye siap membahas dengan Rusia segala proposal yang dapat mempercepat gencatan senjata dan membuka jalan menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Ia menekankan perlunya pendekatan konstruktif dari semua pihak demi menghentikan pertumpahan darah yang masih terjadi di Ukraina. Pendekatan ini menegaskan bahwa Turkiye tidak hanya menempatkan diri sebagai mediator, tetapi juga sebagai pihak yang aktif membangun kerangka solusi jangka panjang.
Sementara itu, Zelensky menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Turkiye. "Turkiye memberikan dukungan yang kuat dalam hal ini," ujarnya. Pemimpin Ukraina menekankan kepercayaannya terhadap kemampuan diplomasi Turkiye dalam dimengerti oleh Moskow, serta menyebut posisi prinsip Turkiye sangat krusial bagi Ukraina dalam menghadapi konflik yang masih berlangsung.
