Secara bersamaan terjadi juga hilangnya es laut secara drastis di Antartika. Luas es laut minimum pada musim panas 2022 turun hingga di bawah 2 juta kilometer persegi untuk pertama kalinya, sementara luas musim dinginnya turun ke rekor terendah sepanjang tahun.

"Tahun 2023 adalah (sekali lagi) tahun yang ekstrem. Tahun-tahun normal, Samudra Selatan di sekitar Antartika ditutupi oleh sekitar 17 juta kilometer persegi es laut atau setara dengan kira-kira 63 Selandia Baru," kata Mario Krapp, ilmuwan data lingkungan dan iklim di GNS Science.

Sementara itu, dikutip dari Okezone.com, studi yang dilakukan sekelompok ilmuwan dari Univeristy of Exeter justru mendapatkan kesimpulan bahwa Antartika bakal kehilangan fungsi utamanya bagi Bumi.

Alih-alih menjadi wilayah yang memberikan efek dingin ke Bumi, Antartika malah bisa jadi seperti radiator yang mengirimkan panas ke berbagai wilayah di Bumi.

Hal itu didasarkan pada sejumlah peristiwa dan kondisi ekstrem yang telah terjadi di Antartika. Mulai dari perubahan cuaca, es laut, suhu lautan yang mulai memanas, gletser yang terus-menerus mencair, hingga keanekaragaman hayati di darat dan laut yang mulai berkurang.