Kaum Ibu bisa lebih berwarna-warni lagi. Setelah kebaya dengan bawahan kain sarung, ditopang sepatu berhak bak bertabur mutiara, atau juga dengan bawahan sarung adat, tidak lupa lipstik dan bedak. Tidak hanya orang tua, semua keluarga yang hadir mengenakan sebaik-baik pakaian. Wisuda adalah momentum paling istimewa dan dinantikan. Hari raya bagi orang tua mahasiswa. Riuh dan bising.

Dalam riuh dan bising itu, pasang mata stay on menyaksikan mereka yang nama-namanya dipanggil. Dalam liput gembira bak hari raya, suara pewara bag petik yang memantik senar-senar debar di dada setiap orang. Dalam debar menanti giliran untuk ke depan.

Fitra memang tak seperti orang kebanyakan. Kerap berkawan dengan tongkat untuk menyangga langkahnya. Menjalari punggung bumi, setapak demi setapak. Celananya kerap terkoyak di bagian lutut ke bawah karena bergesekan dengan tanah, ubin, aspal, dan apa saja di permukaan bumi.

Ia maju ke depan memenuhi panggilan pewara, tongkat itu masih menopang langkahnya. Sesaat ia menjadi sorot mata banyak orang, beberapa mulut terkatup menyaksikannnya. Beragam raut ekspresi nampak.

Pembaca yang budiman, saya sedikit terkendala untuk menggambarkan suasana itu. Ada kegagapan untuk menjabarkan peristiwa itu. Ada haru, ada inspirasi, ada sedih, ada introspeksi.