Selama kuliah ia tiga kali pindah indekos, di Lorong 555, kemudian Lorong Cendana, dan terakhir di Pondok Ceria. Jaraknya ke kampus sekitar 500 meter. Ia sudah terbiasa menjalari permukaan bumi menuju kampus, kadang juga nebeng di motor teman.

Tak hanya itu, ia juga kerap mondar-mandir menjalari kulit bumi untuk menunai sayup seru muazin di Masjid Mawadatullah Muhammadiyah. Dalam keterbatasan seperti itu, ia masih kukuh mendirikan salat lima waktu. Ia menginsyafi Tuhan tak pernah bermain-main dengan ciptaan-Nya, Tuhan Maha Titi saat membentang titian takdir kepada seluruh makhluk-Nya.

"Tapi mungkin karena ini kenapa (saya) tetap maju; saya memang orang yang tidak bisa berjalan mundur, yang saya bisa berjalan itu hanya maju saja. Berjalan ke samping apalagi, ndak bisa saya Bang", tulisnya melalui pesan WhtasApp. Saya membayangkan senyumnya yang merekah dan gaung suara tawanya.

Wisuda dalam liput gembira itu, tak luput doa ia langitkan untuk Bapaknya. Saat saya tanya jika wisuda itu Bapak membersamainya, hanya ada kalimat singkat untuk itu.

"Kalau dipikir-pikir itu pasti akan jadi wisuda paling indah," ungkapnya.