Kawasan Wawolesea cukup luas, meski belum sepenuhnya dikembangkan yaitu sekitar 30 hektare. Secara keseluruhan memiliki potensi sangat besar dengan luas sekitar 300 hektare. Fasilitas yang tersedia ada gazebo dengan ukuran bervariasi serta jalan setapak yang mengarahkan pengunjung ke lokasi kolam permandian.
Dibagian lain kawasan, terdapat bukit kecil yang tidak terlalu tinggi yang di tumbuhi dua pohon serume kurang lebih dua meter, yang sudah berumur puluhan tahun. Menurut legenda masyarakat setetempat, bukit itu menjadi tempat Mekole Wawolesea melabuhkan jangkar perahunya. Mekole dalam bahasa daerah setempat berarti raja.
Berdasarkan legenda masyarakat sekitar, dulunya Wawolesea adalah sebuah kerajaan. Tapi karena dinodai dengan pernikahan sedarah akhirnya kerajaan tersebut terkena kutukan. Sebelumnya di wisata tersebut terdapat bentuk sosok manusia yang menjadi batu dan ada juga yang berbentuk seperti gong. Padahal jika ditelusuri lebih ilmiah, bentuk tersebut terjadi karena lapisan batu kapur, disinyalir adanya gunung merapi yang meledak sehingga mengeluarkan belerang.
Dalam kawasan itu terdapat hamparan pasir putih yang menjadi tempat bersarangnya binatang khas Sultra, burung maleo bertelur. Saat era 1990 an, dalam jarak pandang kurang lebih 50 meter, kita dapat menyaksikan dengan jelas ratusan ekor satwa endemik itu melepas telurnya kemudian memendamnya kedalam pasir. Namun saat ini burung tersebut hanya dapat ditemukan di saat pengunjung sepi itupun hanya 5- 10 ekor saja. Dimana seusai memendam telurnya kedalam pasir, burung-burung tersebut akan terbang kembali kehutan yang terletak tak jauh dari kawasan itu.
