Selain dole-dole, terdapat pula tradisi, Posusu. Posusu merupakan tradisi semacam tanda untuk anak perempuan yang belum balig atau belum bisa dilamar.

Sedangkan untuk laki-laki disebut tandaki atau sunat. Biasanya, anak yang sudah menjalani proses tandaki ini dilarang bermain di bawah kolong rumah. Hal ini bertujuan untuk menghindari penglihatan seorang remaja dari hal-hal yang dapat meningkatkan nafsu, mengingat pada masa itu hampir seluruh rumah masyarakat Buton menggunakan rumah panggung yang lantainya menggunakan papan. Sehingga orang yang berada di kolong dapat melihat aktifitas orang di dalam rumah.

"Jangan sampai yang dilihat orang di bawah rumah itu adalah bagian tubuh rawan, itu masalahnya. Makanya anak yang sudah di tandaki dilarang main di kolong," jelasnya.

Bagi perempuan yang telah balig atau memasuki masa remaja maka wajib di posuo atau dipingit. Hal ini bertujuan untuk mengabarkan jika remaja atau dalam bahasa Butonnya disebut Kalambe, yang artinya sudah siap untuk dilamar.

"Dulu kalau ada peristiwa seorang lelaki membawa lari seorang anak gadis yang belum diposuo, maka lelaki tersebut wajib membiayai ongkos posuo wanitanya saat proses perkawinan. Saat saya masih bupati tiap tahun saya laksanakan posuo massal. Ini untuk menghidupi tradisi budaya kita di Buton," bebernya.