Oleh: Abrar
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara dan sosiolog olahraga
PIALA Dunia FIFA 2026 di Amerika Utara baru saja menutup tirainya dengan gemuruh tepuk tangan dan rekor kehadiran penonton yang fantastis. Sebanyak 6.810.966 orang memadati stadion-stadion di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—mencatatkan rata-rata 65.351 penonton per pertandingan dengan tingkat keterisian tribun mencapai 99,7 persen.
Di luar lapangan, perputaran uang global diperkirakan menembus angka Rp15.000 triliun ($1.000 miliar), dengan pendapatan FIFA sendiri menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa senilai Rp269 triliun ($15 miliar). Media global bergegas menobatkannya sebagai salah satu turnamen paling sukses dalam sejarah sepak bola modern.
Namun, jika kita bersedia menyingkap tirai panggung megah tersebut, kita akan menemukan realitas yang jauh lebih dingin. Di balik kembang api seremonial yang menerangi langit, turnamen tiga negara ini menyisakan satu gugatan fundamental: ketika akses disaring oleh dinding tebal kekuasaan dan stadion diubah menjadi mal eksklusi, masihkah sepak bola menjadi milik rakyat?
