Jika tren komodifikasi, represi, dan intervensi geopolitik ini terus dibiarkan tanpa perlawanan pemikiran, maka kita harus bersiap menghadapi kenyataan pahit: bahwa sepak bola rakyat yang kita cintai menunggu riwatnya tamat, dan yang tersisa hanyalah sebuah sirkus kapitalis megah yang telah kehilangan jiwanya. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
