Oleh: Abrar
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara dan sosiolog olahraga dengan spesialisasi pada irisan kekuasaan, tata kelola, dan intervensi politik dalam arena olahraga. Penulis buku Olahraga, Politik, dan Perlawanan Soekarno serta Sport and Politics: Pasangan yang Tidak Romantis.
KETIKA kick-off Piala Dunia FIFA 2026 dimulai di bawah gemerlap lampu stadion super-modern Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, miliaran pasang mata di seluruh jagat raya serentak terbius oleh narasi suci "Football Unites the World". Dengan ekspansi radikal 48 tim, turnamen ini dikhotbahkan sebagai puncak dari demokratisasi global dan selebrasi kemanusiaan tanpa batas.
Namun, bagi mereka yang memelihara nalar kritis sosiologis, kemegahan ini tak lebih dari sekadar spectacle—sebuah sirkus tontonan artifisial yang dirancang untuk membentangkan perangkap false consciousness (kesadaran palsu) demi menjinakkan nalar kritis massa.
Di balik sorak-sorai tribun mewah, industri sepak bola global sebenarnya sedang menjalankan fungsi paling dinginnya: mengusir suporter kelas pekerja lewat kanibalisme harga tiket, mempermainkan birokrasi visa bagi negara berkembang, dan melakukan sensor aktif terhadap ekspresi identitas kultural.
