Namun perjalanan tersebut akan terbayarkan dengan pemandangan di sepanjang jalan yang banyak ditemukan air terjun kecil. Vegetasi yang dominan adalah tumbuhan berkayu bekas yang ditumbuhi lumut. Hal itu terjadi karena daerah ini sangat lembap. Kantong Semar dan aneka jenis anggrek bisa ditemukan dengan mudah.

Camp 3 terletak setelah anda melewati Musero-Sero. Ada mitos, area ini dipercaya merupakan tempat para jin halus serta makhluk astral lainnya. Pepohonan di sekitaran area ini diselimuti oleh lumut-lumut hijau.

Dari sini bisa langsung menuju puncak Mekongga yang berbentuk kubah luas. Di sini terdapat gua-gua dengan stalagmit dan stalagtit yang indah

Nama Mekongga diambil dari nama suku tertua di Sulawesi Tenggara, yakni suku Mekongga yang merupakan penghuni pertama wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Pegunungan Mekongga menjadi hulu dari ribuan mata air sungai yang mengaliri beberapa kabupaten dan kecamatan. Sumber air itulah yang menjadi tumpuan bagi sektor-sektor pertanian di wilayah daratan Sulawesi Tenggara.

Sejak awal 1994, jalur ke puncak Mekongga mulai dirintis oleh beberapa penggiat alam terbuka. Perintisan jalur memanfaatkan jalan perusahaan PT Hasil Bumi Indonesia (HBI) yang sebelumnya sudah beroperasi di wilayah pegunungan Mekongga. Jalan yang telah dibentuk perusahaan tersebut membentang luas meliputi 40 % wilayah pegunungan Mekongga sampai ketinggian ± 2000 mdpl.