Dengan kondisi saat ini seharusnya para pendukung bakal calon bupati dan wakil bupati tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk membuat posko pemenangan di mana-mana, merebut elit partai sebanyak-banyaknya, dan gencar melakukan pertemuan dengan masyarakat yang kadang tidak memperhatikan lagi protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan memakai masker.
Saat ini sudah seharusnya para tim pemenangan dapat memanfaatkan ruang publik di dunia maya. Saat ini dan kedepan, dominasi ICT (informasi communication teknologi) yang semakin kuat tentu menjadi tantangan sendiri bagi para politisi dalam mengembangkan ruang publik di dunia maya.
Baca juga: New Normal tapi Bukan Abnormal
Kemampuan setiap orang untuk membuat blog, grup percakapan (FB, WA, IG dan sebagainya) dan berbagai website yang interaktif adalah peluang besar. Dengan adanya ruang yang begitu terbuka dalam menyampaikan pesan-pesan politik oleh para kandidat harus dimanfaatkan dengan baik, dengan jalan membuat pesan yang mudah dipahami oleh para pemilih yang sudah diketahui bagaimana karakteristiknya oleh tim media para kandidat.
Sebab dalam pemilu, suara setiap pemilih mempunyai nilai yang sama. Membujuk seorang profesor sama nilainya dengan membujuk seorang nelayan atau petani. Kuantitas pemilih lebih menentukan dibandingkan dengan kualitas pemilih. Karena itu agar kandidat mendapat suara yang besar, strategi harus diarahkan untuk membidik pemilih dengan lapisan terbesar.
