Penulis mendengar sejumlah pendukung Hati menyaksikan fenomena alam yang dikaitkan dengan Pilkada ini. Misalnya, tumbangnya pohon beringin di Kelurahan Tongano Barat, Tomia Timur. Menurut pendukung Hati, fenomena itu ialah pertanda kekalahan partai Golkar yang berlambang pohon beringin, dimana pasangan Halo berkendara.

Ada lagi salah satu anggota grup facebook Wakatobi Online menampilkan gambar jambu mete dua biji dalam satu buah. Terlepas apakah itu editan atau asli, yang jelas gambar jambu mete itu isyarat, setidaknya menurut pendukung calon bupati dan wakil bupati nomor urut 2, yakni Hati akan keluar sebagai kampiun Pilkada Wakatobi tahun ini. Cerita-cerita demikian adalah sesuatu yang wajar dan bukan hal yang baru.

Menarik melihat dua sudut pandang tersebut. Halo mendapat legitimasi kemenangannya melalui hasil survei. Sementara legitimasi kemenangan Hati diperoleh melalui hal-hal magis--kalau tidak mau dikatakan sebagai fenomena alam.  

Baca juga: Menyongsong Kapolri Baru, Tak Sekadar Nama dan Lulusan Tahun Berapa

Namun demikian, apapun cara yang kita lakukan agar lebih dulu mengetahui hasil Pilkada ini, seyogianya tidak membuat nurani kemanusiaan kita abai pada kenyataan. Bahwa fitrah manusia itu suci sehingga caci-maki, membenci, menghujat dan memfitnah adalah sifat tercela yang berasal dari luar diri manusia.