Dinamakan seperti itu selain oleh karena berada di tengah kampung, melainkan juga karena di tempat itulah segala aturan adat dirumuskan dalam berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Di hari Jumat yang agung itu, traktat ditetapkan, hajatan politik telah usai. Para kandidat menyelami dalam diri masing-masing untuk membonsai onak duri yang masih berdiri. Menginsafi diri bahwa segala recik hitam dikucek bersih demi menjalani kehidupan yang harmonis.

Sama seperti yang diungkapkan oleh Amidun, Tokoh Pemuda yang turut hadir bahwa suasana bersahabat dan renyah meluputi rembuk itu.

"Suasana aman dan terkendali", kenangnya.

Setiap kandidat saling menjabat tangan sebagai tanda tetap terjalinnya persahabatan dan kekeluargaan. Sekejap itu pula sumringah dan tawa haru meretas dari para tetua dan hadirin.