Sementara, aktor di luar pusaran dinasti mewakili pihak yang lemah dan subordinat. Sehingga, ketimbang partisipatif, konsekuensi yang tercipta adalah relasi transaksional yang dimulai sejak awal. Transaksi itu bisa dalam bentuk beragam, entah distribusi jabatan, proyek, atau siraman uang untuk ‘membeli' suara.
Baca Juga: Selusin Negara yang Pisahkan Ibu Kota
Lalu, bagaimana dengan eksistensi dan praktik dinasti politik yang akan kemungkinan besar juga terjadi pada Pilwali Kota Kendari nantinya. Ibarat hidangan makanan, masyarakat kota Kendari hari ini juga telah dihidangkan dengan beranekaragam menu dalam konteks dinasti politik.
Sekali lagi ini bukan anomali. Kalau mengambil istilah anak Kendari, biasami, begituji memang, mereka-merekaji lagi, mau diapa. Silahkan netizen yang budiman, memilih menu mana yang cocok dengan seleranya masing-masing.
Sebahagian konklusi itu tidak hanya mencerminkan hal yang jauh dari esensi dan subtansi sebenarnya. Karena idealnya dalam konsep demokrasi modern. Pola yang semestinya berjalan secara agregat adalah masyarakat mempunyai hak yang sama untuk dipilih dan memilih.
