Namun kenapa konsep tersebut kesannya tidak nampak, dan cenderung menjadi kelumrahan. Hal ini tidak terlepas dengan respon publik terhadap kesadaran terlibat dalam kontestasi demokrasi kecenderungannya tidak akan jauh-jauh dari pemain-pemain dan lingkaran-lingkaran elitis yang ada saja.
Maka persepsi yang akan keluar adalah, yang akan bertarung pada kontestasi nantinya adalah mereka-mereka yang punya basis modal kapital yang besar, punya pasukan atau pemain-pemain politik yang menguasai medan tempur, memiliki pengaruh ketokohan yang kental, dan yang tidak kalah penting mempunyai kedekatan dan akses yang terbuka luas dengan kaum elitis penentu pintu para yang mulia yang mulia.
Entah elemen-elemen persepsi ini positif atau negatif, biarkan netizen yang menilai. Apa dabilang netizen, sudah itulah yang akan menjadi norma yang diterima. Karena tentunya akan bias jika hal ini menjadi kesimpulan tetap, tanpa dibarengi argumentasi dan data yang akurat serta tentunya restu dari netizen yang arif dan bijaksana.
Tanpa diajari dan dipahamkan, masyarakat awam pun secara fasih akan menjawab dan paham, pada Pilwali Kota Kendari mendatang para bakal calon Walikota dan bakal calon wakil walikota yang telah berseliweran, baik di media cetak, media sosial maupun di media jalanan (baliho, spanduk, red) itu akan tahu asalnya dari dinasti yang mana.
Seberapa kuat pengaruh dan eksistensinya pun masyarakat sepertinya sangat fasih paham akan hal itu. Lantas, apakah secara general masyarakat cenderung menerima, ataukah lebih baik diam membisu. Sekali lagi, itu dikembalikan kepada netizen yang baik hati.
