Harusnya, terduga pelaku sebagai orang berpendidikan tinggi tak menggunakan kata-kata yang digunakan sebagai referensi, semestinya harus lebih bijak mengeluarkan bahasa.
"Kami masyarakat adat turun kejalan ini kan hanya untuk mengeluarkan ekspresi karena kemarahan kami," pungkasnya.
Irfan Konggoasa juga berharap agar Kapolda Sulawesi Tenggara bisa segera menemui massa agar mengetahui tersangka ada berapa orang.
Ia juga menegaskan agar yang terlibat dalam skripsi tersebut diamankan karena ini dalam ruang akademik, apa lagi dengan beredarnya skripsi tersebut telah membuat gaduh ditanah leluhur.
"Kami ada berapa etnis yang ada di Sulawesi Tenggara Tolaki, Muna, Buton dan Moronene," tambahnya.
