Inilah yang terjadi di negeri ini, mereka tidak mencoba melihat semua program kerja, keputusan, maupun kebijakan dengan pikiran yang jernih, jika memang layak dilanjutkan, semestinya dilanjutkan dan tidak perlu malu.
Tetapi selalu dalam pikiran politisi, utamanya oposisi, membuang semua kebijakan, keputusan, maupun hasil karya dari kepemimpinan sebelumnya. Wajar akhirnya, rencana renovasi Stadion JIS yang hal lumrah, membuat kubu KPP naik pitam, bahkan seolah-olah semua disakralkan tidak boleh dilakukan perubahan.
Melakukan perubahan tentu saja boleh, tidak melanjutkan program kerja sebelumnya juga boleh, namun semuanya harus objektif. Bukan malah menyebabkan semua hasil karya terbaik tidak perlu diakui, semua peninggalan kinerja pemimpin sebelumnya dianggap terburuk, atau juga seperti mensakralkan hasil karya sehingga tidak boleh diubah, tentu ini adalah perilaku buruk dalam berpikir maupun dalam kepemimpinan.
Semestinya politisi kita mengedepankan pendidikan politik bagi masyarakat. Mereka para politisi ketika sudah terpilih, harus bisa mengedepankan sinergi dalam kebijakan, tak perlu malu melanjutkan kebijakan sebelumnya jika memang baik.
Sebab yang terpenting adalah membuat Indonesia lebih baik ke depannya, bukan sekadar proyek trial and eror demi sebuah gengsi yang malah akhirnya mengabaikan unsur kepentingan masyarakat, bangsa dan negara ini. Rencana renovasi JIS semestinya kita tak perlu lagi berpolemik.
