KENDARI, TELISIK.ID - Polemik pertambangan di Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara, terus menjadi topik hangat di kalangan masyarakat. Ini mencerminkan dilema besar dalam mengelola sumber daya alam (SDA) yang melimpah namun penuh tantangan.

Salah satu sektor yang menjadi sorotan utama adalah pertambangan. Meskipun sektor ini memiliki potensi besar untuk mendongkrak perekonomian daerah, di sisi lain, pertambangan juga mengancam kelestarian lingkungan dan keberlanjutan budaya lokal.

Kehadiran tambang di wilayah ini memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebagian pihak mendukung adanya industri pertambangan, karena dianggap mampu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, seperti yang diungkapkan Muhammad Yusup, Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, banyak juga pihak yang menentang keberadaan tambang.

Menurutnya, salah satu alasan utama penolakan adalah potensi kerusakan lingkungan yang dapat merusak tatanan sosial budaya masyarakat setempat, terutama akibat aktivitas pertambangan yang berisiko mencemari alam dan menghancurkan sumber daya alam lokal.