Penggambaran situasi di SPKT Polrestro Tangerang Kota dan di jalan-jalan menuju kawasan Industri di Banten tadi, dapat dipastikan hanya dua di antara sekian banyak situasi Polri yang melayani masyarakat di berbagai belahan di Tanah Air, termasuk di Sultra atau daerah-daerah lainnya. Bertambah luas lagi jangkauan masyarakatnya, bila melongok aktivitas para Bhayangkara Pembina Desa (Bhabinkamtibmas).

Gambaran pelayanan tersebut terasa menjadi semacam surprise di tengah-tengah tak sedikitnya kejadian yang “mencoreng” institusi Polri akhir-akhir ini. Pepatah lama mengatakan, terasa “bak hujan sehari di tengah panas terik” lantaran “setitik nila, rusak susu sebelanga”.

Tugas Polri memang begitu dekat, bahkan berkelindan dalam kemasyarakatan Oleh karena itu, tak keliru bila Kapolri, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo di banyak kesempatan kerap menegaskan, Polri harus tegas, namun tetap human agar tidak kehilangan perilaku melayani. Pernyataan serupa kerap pula diulang-ulang oleh para pemimpin Polri hingga di tingkat terdepan, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) di kecamatan-kecamatan.    

Ketika masih sebagai calon Kapolri, dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI (2021), Sigit memaparkan konsep PRESISI, yaitu Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan (PRESISI). Sigit yang dilantik Presiden menjadi Kapolri menggantikan Idham Aziz (27 Januari 2021) berjanji, dengan pendekatan PRESISI, Polri bisa membuat pelayanan lebih terintegrasi, modern, mudah, dan cepat. Mengapa?

Dalam kalimat Irjen Pol. Tomsi Tohir saat masih menjadi Kapolda Banten (kini Komjen dengan jabatan Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri) tergambarkan, “Frekuensi masyarakat ketemu polisi itu tinggi….Semua pernah mengalami berhubungan dengan polisi, apakah itu dalam kemalangan, kecurian, kehilangan, atau untuk suatu pelayanan adminsitrasi. Dalam tugas-tugasnya, polisi itu pelindung, pengayom, pelayan. (Suryadi dkk, 2019:45).