Pilihan bergabung dengan Gerindra untuk membangun koalisi Pemilu 2029 sejak dini, tentunya merugikan bagi partai-partai politik yang memiliki kandidat calon untuk diajukan sebagai calon presiden (capres) dan/atau cawapres.

Misalnya, Partai Demokrat yang bisa mengajukan ketua umumnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai capres atau cawapres. Begitu juga dengan Partai Golkar dan PKB yang punya banyak kader untuk dimajukan sebagai capres maupun cawapres di Pemilu 2029 mendatang.

Jadi jika dicermati manuver Nasdem ini seolah membuat Nasdem memiliki pemikiran politik yang lebih maju, meski begitu sejatinya ada alasan rasional di balik itu, yakni Nasdem tengah bertahan dari kondisi internalnya seperti tiada perwakilan kader Nasdem dalam kabinet, adanya upaya pelemahan dari eksternal partai, dan strategi jika Nasdem tidak lolos parliamentary threshold dengan membangun aliansi bersama Gerindra di Fraksi DPR, misalnya. Di samping juga, blok politik adalah upaya Nasdem memperoleh kembali peran pentingnya dalam kancah politik nasional. (*)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS