Komposisi menteri periode kedua dari utusan partai mengalami kenaikan jumlah kader yang ditempatkan sebagai pembantu eksekutif, misalnya, jika sebelumnya 15 orang kader partai politik dan 19 orang adalah professional.
Sedangkan saat ini, awal kabinet berjumlah 17 orang dari partai politik dan 17 orang dari kalangan profesional. Disamping itu, rival pada rematch di Pilpres 2019 lalu, pasangan calon presiden/wakil presiden tepatnya reshuffle pertama Desember 2020, Presiden Jokowi tetap mempertahankan dua kursi untuk Gerindra dengan melengkapi pasangan rivalnya dengan memasukan Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Satu setengah tahun pemerintahan Presiden Jokowi, ia melakukan strategi yang sama dengan periode sebelumnya yakni mengamankan dukungannya di legislatif. Presiden dalam praktik informal menggunakan “senjata pamungkas” berupa mekanisme “bagi-bagi rezeki” (pork barrel). Dengan bergabungnya Gerindra, menunjukkan strategi memberangus peran oposisi, menyebabkan peran check and balance tidak berjalan di parlemen.
Pilihan ini sejalan dengan persepsi Jokowi yang menyatakan Indonesia tidak mengenal oposisi, bahkan demokrasi di Indonesia dikatakannya adalah demokrasi gotong royong. Bersama pemikiran itu, wajar akhirnya dua tahun pemerintahan saat ini, Partai Amanat Nasional (PAN) turut diajak bergabung dengan Pemerintahan kecuali kedua partai yakni Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akibat intrik politik dua partai itu tak memungkinkan bersama di pemerintahan.
Politik Balas Budi antara Kebutuhan dan Kekhawatiran Berlebihan
