Menanggapi hal itu, Hoegeng hanya mengatakan, akan memelajari kasusnya, sebelum mengambil keputusan. Tak mungkin ia menolak mentah-mentah, mengingat yang datang itu kenalan baiknya juga. Hoegeng merasa, setelah itu, selesailah perjuangan mereka sebagai “penegak hukum” membantu rekannya.
Setelah beberapa hari kemudian, saat ia sedang di kantor, Hoegeng menerima telepon dari istrinya, Mery di rumah. Mery mengabarkan ada tamu seorang Cina dari Makassar dan meninggalkan banyak hadiah. Alamatnya ada. Hoegeng kepada Mery mengatakan, tunggu sampai ia pulang.
Ketika sampai di rumah, Hoegeng mendapati hadiah itu banyak sekali, antara lain mesin cucii listrik, alat-alat elektronik, dan bahan-bahan pakaian. Banyak lagi hadiah yang lain. Kemudian, peti ditutup kembali dan dikembalikan ke Alamat pengirim. Yang Hoegeng tak habis mengerti, setelah peti itu dikembalikan, datang relasi si cantik itu untuk meyakinkan Hoegeng dan mengatakan, hadiah itu bukan suap melainkan tanda penghormatan padanya.
Kepadanya terus terang saya katakan, “…Saya tidak suka. Hadiah-hadiah itu saya kembalikan sebab wanita itu masih dalam perkara. Cara yang terbaik baginya menyatakan hormat kepada saya, adalah membantu saya menegakkan hukum dan bukan begini. Juga you, tidak ikut sampur dalam hal ini.”
Terakhir, aku Hoegeng, kabar burung yang ia dengar, perkara si cantik, terus bergulir sampai ke pengadilan. Ia divonis hukuman penjara. Terakhir, kabar burung yang Hoegeng dengar, wanita cantik yang berusaha menyuapnya dengan berbabagai hadiah itu, pernah mengrobankan kecantikannya kepada pejabat tertentu agar mau membantunya.
