Ketika 40 hari kemudian terungkap, penduduk tak ada yang berani mengangkat jenazah korban dari “kubur paksa”, Saturman dengan suka rela yang mengangkatnya dari dalam kubur. Belakangan, berkat telusur yang dikembangkan reserse polisi berdasarkan informasi Saturman dan penduduk, terungkap ternyata si perempuan itu dibunuh oleh suaminya sendiri.

Baca Juga: Jujur, Hipokrit, dan Manusia Indonesia

Tak cuma itu. Saturman di mata penduduk Kalibata Lor, dinilai sangat berjasa mengungkap semacam kasus calo tenaga kerja yang merugikan penduduk desa setempat. Dulu banyak tentangganya yang dibohongi dimintai sejumlah uang, kemudian diberi seragam.

Kemudian, orang-orang kampung berseragam itu, dipekerjakan berjaga di tepi-tepi jalan raya. Sopir-sopir bus dan truck yang lewat distopi dan dimintai sejumlah uang. Tentu saja, sopir-sopir itu menolak dan mengancam balik. Saturman memeroleh informasi tersebut.

Berbekal informasi Saturman, petugas Kepolisian yang membidangi, segera menelusuri. Terungkaplah, ternyata warga desa sudah dikibuli diberi seragam tapi lebih dahulu dimintai uang. Mereka dipekerjakan menyetopi mobil-mobil bus dan truck yang lewat, dan memintainya uang.