“Ketika Bung Hatta mengundurkan diri dari kedudukan Wakil Presiden, maka diberitakan bahwa ia hanya memiliki uang Tabungan Rp200. …juga pernah diberitakan koran bahwa Bung Hatta uang pensiunnya terlalu kecil, untuk memenuhi kewajibannya membayar uang langganan listrik! Beliau tidak mengeluh. …,” ungkap Hoegeng (1993: 316). Agaknya, Hoegeng menjadikan Hatta yang jauh lebih tua daripadanya, sebagai teladan.  

Hatta dan Hoegeng mendidik agar bangsa ini, termasuk polisi Indonesia, benar-benar menjadi penegak hukum yang jujur. Sebagian keteladanan mereka, sudah menurun kepada Putu Mastra, Saturman, dan masih banyak polisi yang lain, meski agaknya mereka tak seberani Hatta dan Hoegeng.  

Mungkin benar kata Kapolri Sigit, masih lebih banyak anggota Polri yang baik. Diam-diam berbuat baik. Tentu saja, mereka yang tidak mementingkan diri sendiri, dengan mengabaikan rakyat yang sudah menjadi kewajiban mereka untuk diurusi dan diabdi.

Persoalnya, apakah masih mau meneruskan kebiasaan masa lalu, “Mengoknumkan” setiap terdapat kejadian buruk yang melumuri nama institusi?  Lantas, menjawabnya, dengan berkaca pada ungkapan lama “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.

Terlalu banyak yang perlu dibenahi, terutama kultur sekadar atau formal memperbaiki citra. Citra yang “ditampilkan” hendaklah yang sesungguhnya. ”Inner beauty”, cantik itu dari dalam, kata ungkapan dalam dunia kecantikan. Sehingga, dengan begitu pantas menyatakan, “Bagaimana pun kami adalah Polri”.