Boleh jadi, hal itu akibat motivasi dari dalam diri sendiri yang menginginkan hidup mewah kaya-raya --terkadang berlebihan--, bersama keluarga, meskipun banyak orang harus jadi korban. Teori terjadinya kriminal pun berlaku; “ada niat, ada kesempatan” atau “kesempatan” yang menjadikannya terjerumus.
Capaian yang bersifat kebendaan berlebihan, itulah yang dianggap sebagai kekayaan sejati. Simpulnya, sadar atau tidak telah terjebak atau menjebakkan diri sebagai penganut hedonism (baca: paham kesenangan, hingga hilang tenggang rasa).
“Kerusakan” semacam itu kerap dipertontonkan, meski sesungguhnya secara dini telah ada peringatan, baik pasif maupun aktif. Tetapi, tak demikian dengan Wakil Presiden (Wapres) I, Alm. Mohammad Hatta (Bung Hatta) dan Kapolri ke-5, Alm. Hoegeng Iman Santoso (Hoegeng). Mereka teladan baik bagi beragam lingkungan, yakni keluarga inti, kerja, maupun masyarakat.
Sederhana
Dalam kesahajannya yang serba tertib dan banyak orang menganggapnya kaku, pada 1971 Bung Hatta dibiayai negara melalui Sekretariat Negara (Setneg) berobat ke luar negeri. Didampingi Sang Istri, Rahmi Hatta dan putri bungsunya, Halida Nuriah Hatta, ia berobat ke Belanda.
