Akhirnya, Pak Wangsa kembali lagi ke Setneg. Dengan berbagai cara ia memaksa mengembalikan uang sisa perjalanan rombongan Hatta kepada Bendahara Kepresidenan. Setelah ada bukti tanda terima pengembalian, barulah Hatta puas. Sementara Pak Wangsa yang dibuat stress dalam situasi demikian itu, kepada Gemala mengungkapkan, “Saya jadi bahan tertawaan semua orang di Setneg.”
Seperti pada ”Tertib Menggunakan Uang Negara” dalam “Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya”, Gemala menulis tentang prinsip Sang Ayah terhadap yang bukan haknya, “…sampai titik darah penghabisan pun tetap saja beliau tak akan menerimanya. Tidak peduli jumlahnya berapa. Itulah contoh orang berprinsip.” (2015: 165 – 166)
Soal kejujuran sebagai sebuah nilai dan keberanian memertahankan kejujuran, juga terungkap dari Abrar Yusra dan Ramadhan K.H. tentang Kapolri ke-5 (1968 – 1971), Hoegeng pada tulisan berjudul ”Godaan Buat Pejabat Negara” dalam buku “Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan”.
Pengakuan Hoegeng, “…yang lebih berat adalah apabila dikeroyok rekan-rekan sendiri. Baik dari Kepolisian atau bukan, untuk meremehkan hukum dan menomorsatukan kepentingan pribadi atau keluarga, atau lebih mengutamakan pemeliharaan hubungan baik dengan relasi (yang gampang memberi “hadiah”) ketimbang memelihara tegaknya hukum dan peraturan” (1993: 312). Untuk semua itu, Hoegeng berani menundukkan dirinya sendiri.
Begini ceritanya. Sesuai janji per telepon, suatu pagi di kantornya sebagai Menteri/ Panglima Angkatan Kepolisian (Menpangak), Hoegeng menerima tamu wanita cantik (tak disebutkan namanya) keturunan Cina dari Makasar.
