Semula perempuan itu tampak takut-takut. Toh ia masuk juga. Dia bilang, “Saya cuma ingin bertanya, Mas Hoegeng. Bagaimana mobil barunya? Katanya, Mas Hoegeng punya sedan Marcedes baru”. Hoegeng malah balik berkata, “Jangan macam-macam, saya tak punya Mercedes. Bahkan, tak punya sedan pribadi.”
Seperti tak kehabisan akal, perempuan itu mengaku, memang ia sudah menduga begitu. Oleh karena itu, ia memberanikan diri menghadap Hoegeng. Dari situlah laporannya bermula. Menurutnya, seorang laki-laki bernama Jawa keturunan Cina (tak disebutkan namanya) punya piutang kepadanya. Lama ia tak bayar hutang.
Sampai-sampai ia mengancam akan melapor ke polisi. Bukannya takut, laki-laki itu malah balik bertanya, kepada siapa ia akan melapor. Ketika disebutkan akan melapor kepada Pak Hoegeng, laki-laki itu malah balik menyergah, “Mana bisa, beberapa minggu yang lalu lalu, ia baru saja saya beri Mercedes”.
Merasa pernah membaca nama laki-laki yang disebutkan si perempuan tadi, Hoegeng segera memanggil stafnya, Katik Soeroso untuk membawa buku hitam Polri. Buku ini berisi nama orang-orang yang harus ditangkap sebagai tersangka, untuk diproses dan diajukan ke pengadilan. Buku Hitam juga memuat identitas pribadi dan lain-lain, termasuk foto yang bersangkutan (mungkin sekarang Daftar Pencarian Orang, DPO).
Seraya memerkenalkan perempuan tadi kepada Katik Soeroso, lantas Hoegeng meneliti nama-nama di buku hitam. Benar saja, ada nama tersebut di dalamnya. Ketika hal itu diperlihatkan, si perempuan pelapor tadi membenarkan, “Ya Mas Hoegeng, betul!”.
