"Jauh-jauh datangi undangan pacuan ke kabupaten lain demi membawa nama baik Kabupaten Manggarai dengan biaya sendiri tanpa campur tangan pihak Pordasi, Dinas PPO, Pariwisata maupun Dinas Peternakan. Tapi Pordasi malah sepertinya vakum dan tidak peduli perkembangan olah raga berkuda yang bisa dijadikan destinasi wisata bagi Kabupaten Manggarai umumnya dan Kecamatan Reok khususnya," tandas Riko.

Menurutnya, pacuan kuda ini seharusnya diselenggarakan juga di Manggarai sebagai hiburan masyarakat yang sudah 3 tahun belakang haus hiburan karena dampak pandemi COVID-19.

Baca Juga: Tanding Rock Boxing Nusantara, Petinju Sulawesi Tenggara Dhias Mushari Juara I

Sebab, pacuan kuda juga sebagai pemicu bangkitnya perekonomian Kabupaten Manggarai dan memperkenalkan budaya serta wisata alam Kabupaten Manggarai bagi peserta pacuan dari luar kabupaten dan luar pulau.

"Kabupaten Manggarai telah memiliki lapangan/sirkuit pacuan kuda yang memenuhi standar dgn panjang lintasan 1.100 meter. Tapi sudah 4 tahun terbengkalai. Sementara kabupaten lain yang minim prasarana lapangan pacuan, malah berbondong-bondong mengadakan pacuan kuda. Lantas kemana Pordasi," sindir Riko.