Itulah alasan kenapa saya memilih pasar untuk mengawali perbincangan pada kertas kerja ini. Saya percaya, pasar adalah mula dari segalanya. Dari pasar isi dapur berasal, cerobong mengepul, dan semua anggota kelaurga dapat bertahan hidup untuk memenuhi perannya sebagai manusia dan masyarakat.
Di Kota Kendari, kita dapat menemukan berbagai pasar berdasarkan letaknya. Paling sering saya kunjungi ialah pasar pelelangan ikan di wilayah kota, juga pasar Mandonga yang mencakup daerah Korem dan pasar basah. Meski demikian, Anda tetap akan menemukan pasar lainnya, yakni pasar panjang, pasar Andounohu, pasar Lawata, pasar grosir, pasar Wayong, dan pasar RRI.
Perubahan kondisi pasar sebelum dan saat pandemi berlangsung menunjukkan gelagat yang saling beroposisi.
Lesunya kegiatan jual beli yang berpengaruh pada lambatnya perputaran uang memaksa saya memikirkan langkah tepat dalam mengatasi anjloknya daya beli masyarakat. Saya meyakini, persoalan perut kelas grassroot yang nyata berseliweran di depan hidung saya tidak bisa hanya mengandalkan keputusan-keputusan pemerintah namun juga harus bergerak secara mandiri membantu mereka.
Menyikapi hal ini, saya teringat sebuah citra dari nilai-nilai keterhubungan yang intim antara penjual dan pembeli. Nilai-nilai itu biasa disebut sebagai “potulumi”. Konsep potulumi dipinjam dari istilah lokal orang Muna menggambarkan sebuah pengalaman berinteraksi secara dekat dan persisten dalam jangka yang panjang. Nilai ini adalah sebuah kerangka pikir yang saya yakini dapat diterapkan sebagai skenario penangkal dampak terburuk penyebaran pandemi dalam kosep pasar.
