Artinya, setiap pembeli berhak membagi belanja kebutuhan rumah tangganya dari satu penjual ke penjual lainnya, dan tidak lagi mempertahankan langganan tetap. Mosiraha semie lebih ditujukan pada satu penjual, sedangkan mosiraha nobari berlangganan pada beberapa orang penjual di sebuah pasar (wawancara tokoh masyarakat Muna di Kelurahan Kadia, Maret 2020).
Seorang teman berkisah tentang cara ia berbelanja akhir-akhir ini. Setiap minggu, teman saya bisa menghabiskan empat hingga lima ratus ribu uang belanja. Dalam situasi normal, ia akan menukar semua uangnya hanya pada beberapa langganan yang mencakup mosiraha sayur, ikan dan rempah-rempah.
Baca juga: Modal Sosial Pandemi COVID-19
Akan tetapi, kesadaran membagi rejeki kepada lebih banyak pedagang dalam situasi luar biasa membuat ia memutuskan untuk memperluas cakupan pertukaran uang belanjanya. Selain kepada mosiraha-nya, ia juga akan berbelanja kepada tiga hingga empat pedagang lain yang bukan langganannya.
Kebiasaan baru itu bisa jadi terdengar terlalu sepele untuk memperbaiki situasi kapital yang babak belur digebuk kemahadahsyatan virus. Namun demikian, bukankah selalu ada celah kecil yang bisa kita lakukan di tengah segala keterbatasan?
