Pilihan kata dalam menyampaikan informasi ini menghasilkan sikap tak acuh dari masyarakat untuk meyakini bahwa COVID-19 adalah berbahaya, masyarakat sekarang banyak yang menyimpulkan bahwa COVID-19 seperti flu biasa.
Padahal misal, terdapat perbedaan anosmia atau kehilangan indera penciuman antara COVID-19 dengan flu biasa, seperti jika sebagian besar pasien COVID-19 yang kehilangan indera penciuman tetap bisa bernapas lega karena hidung biasanya tidak tersumbat atau berair, sedangkan penderita flu biasa indra penciuman hilang akibat hidung tersumbat.
Di tengah situasi komunikasi yang buruk ini ternyata juga dapat dihasilkan manfaat untuk memperoleh simpatik publik. Ketika terjadi kesimpang siuran ini, Ketua DPR Puan Maharani dengan cerdas dapat memanfaatkan momentum ini.
Dengan Puan meminta pemerintah untuk menyampaikan hasil evaluasi PPKM Darurat Jawa-Bali terlebih dahulu, sebelum berencana memperpanjangnya kembali. Sebab, hasil evaluasi ini penting diketahui masyarakat sebagai pihak yang merasakan dampak kebijakan ini (tempo.co, 17 Juli 2021).
Seperti kebetulan, meski diragukana jangan-jangan telah danya kesepakatan yang tersembunyi. Koordinator PPKM Darurat Luhut menyatakan keputusan PPKM Darurat akan diambil setelah dilakukan evaluasi terlebih dahulu.
