Kegagalan PPP juga dapat kita sebut karena salah kaprah dalam memilih strategi politik. PPP terburu-buru memilih untuk keluar dari Koalisi Indonesia Besar (KIB), kemudian menyeberang sendirian memilih kepada PDI Perjuangan.
Nyatanya, hanya PPP yang tersingkir, sedangkan Golkar dan PAN perolehan suaranya naik, bahkan PAN juga lolos dari ancaman tidak lolos parlemen. Seperti Golkar yang sebelumnya memperoleh 12,31 persen, naik menjadi 15,28 persen dan PAN dari 6,84 persen naik menjadi 7,23 persen.
Analisa dari kesalahan PPP memilih strategi politik dalam memilih koalisi dapat dilihat dari fakta, ternyata PDI Perjuangan juga mengalami penurunan suara sebesar 2,6 persen dari 19,33 persen menjadi 16,72 persen meski masih menempati peringkat pertama.
PDI Perjuangan juga gagal dalam mengusung Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Pemilihan Umum Presiden (Pilpres), kekalahan dari Pilpres amat miris sebab PDI Perjuangan bukan hanya terlempar dari Istana setelah dua periode dipercaya sebagai partai penguasa, tetapi juga menempati posisi ketiga (buncit) dari hasil Pilpres dan dengan kekalahan memalukan berupa tidak memenangkan sekalipun dan/atau 0 provinsi.
Fakta ini menunjukkan PPP tidak ada faktor ekor jas dari mengusung Ganjar-Mahfud malah terlempar dari peran di politik kancah nasional.
