Partai-partai di era reformasi ini sebenarnya tidak serius memiliki ideologi. Sepintas saja bahwa mereka terkesan berbeda, tetapi sebenarnya sama, nuansa mereka lebih kepada pragmatisme.
Ini terjadi, sejak Pemilu 2009 lalu, partai-partai Islam mencoba untuk melepaskan kekhasan masing-masing. Misal, PKS dan PAN lebih senang menyatakan dirinya sebagai partai terbuka dibandingkan menonjolkan diri sebagai partai agama.
Pemilu serentak 2019 kemarin, juga menunjukkan ketidakjelasan partai politik dalam menawarkan visi dan misi dari turunan berdasarkan ideologi. Mereka cuma berpikir kepentingan kemenangan semata. Politik lebih dikedepankan unsur pragmatisme semata dibandingkan kepentingan kebangsaan.
Fenomena mengangkat isu identitas, dengan mengunakan metode kampanye demagogi, lebih ditonjolkan. Akhirnya, masyarakat terbelah dalam memilih, konyolnya bukan merujuk kepada visi-misi, tetapi lebih besar berdasarkan ketokohan semata, dengan dibalut sentimen isu agama.
Akhirnya, kita bisa menyaksikan demokrasi kita dianggap mengalami kemunduran berdemokrasi. Ketika kita masih merasakan terjadinya pembelahan secara level grass root, tetapi di tingkat elite malah menonjolkan kemesraan yang tak pernah dibayangkan masyarakat.
